Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan

12.08.2011

Tari Mengajarkan Gadis Autis Ini Bicara

Jakarta, Shannon diketahui memiliki autis, bisu dan juga tidak pernah sekalipun memulai suatu pembicaraan. Tapi Shannon menemukan suaranya dan mau berbicara sejak diajak bergabung dalam DVD tari.

"Shannon dilahirkan dengan banyak kesulitan, saat balita ia tidak punya otot yang membuatnya tidak bisa berjalan dan berbicara. Dia hanya bisa membuat suara-suara yang tidak dimengerti," ujar ibunya, Katreena (35 tahun), seperti dikutip dari The Sun, Kamis (8/12/2011).

Katreena menuturkan hal ini memilukan karena ia tidak bisa terkoneksi dengan anaknya, Shannon (12 tahun) seperti tinggal di dalam dunianya sendiri.

Saat Shannon berusia 8 tahun, dokter mendiagnosisnya dengan autisme, gangguan otak kompleks yang membuat orangtua harus memindahkannya dari sekolah umum ke sekolah khusus autis Hillingdon Manor.

"Shannon selalu menolak untuk memulai percakapan, ia menjadi sangat pemalu dan sulit berinteraksi dengan orang lain. Perlakuan teman-temannya di sekolah umum membuat kepercayaan dan harganya semakin rendah," ungkap sang ibu.

Di rumah, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar untuk bermain Xbox dengan sang ayah tapi tidak pernah melakukan percakapan apa pun. Hingga akhirnya, Anna Kennedy, pendiri Hillingdon Manor menawarkan Shannon untuk ikut tampil dalam DVD tari dengan anak-anak lain dari sekolah itu.

"Awalnya saya tidak yakin Shannon bisa melakukan hal itu, karena secara fisik ia sangat lemah otot dan tidak ada koordinasi sama sekali. Tapi Anna membantu anak-anak untuk mengembangkan kesadaran spasialnya (sesuatu yang sulit dipahami dari anak autis)," ujar Katreena.

Anna menggunakan imajinasi dengan memasukkan lingkaran dan menari dengan gaya bebas. Anak-anak ini didesak membawa CD favoritnya untuk membantu mereka terbiasa dengan ritme nada yang berbeda.

"Saya mulai melihat perubahan di diri Shannon setelah ia terlibat dalam DVD itu, ia mulai bisa bergerak lebih baik dan koordinasi ototnya semakin meningkat," ujarnya.

Hingga suatu hari Shannon berlari ke sang ibu dan berkata, 'Mum, can we watch my DVD together?'. Saat ia mengatakan hal tersebut, Katreena sangat tersentuh karena itu pertama kalinya ia mulai percakapan.

"Aku hanya duduk dan termenung, jika saya punya kamera video, akan saya rekam kejadian tersebut. Itu sangat luar biasa," imbuhnya.

Katreena menuturkan hal itu pertama kalinya ia menunjukkan minat terhadap sesuatu, selain itu terobosan ini menjadi suatu hal yang istimewa di tahun ini setelah Shannon didiagnosis dengan Potocki-Lupski Syndrome (PTLS), suatu kondisi genetik yang sangat langka dan baru diakui.

"Kondisi ini berarti Anda memiliki duplikasi kromosom 17 yang menyebabkan kesulitan dalam pengolahan bahasa dan artikulasi serta keterlambatan perkembangan motorik dan verbal," ujarnya.

Tapi kini Shannon menjadi lebih percaya diri, jika sebelumnya ia tidak mau pergi ke rumah siapa pun tapi sekarang ia rajin mengunjungi tetangganya dan menunjukkan DVD tersebut. Bahkan membantu sang adik, Paige untuk bergerak menari.

Katreena menambahkan bahwa kini Shannon mengalami banyak perkembangan dan fakta yang ada sekarang ia sudah mau dan bisa berbicara serta memulai suatu percakapan.

Apa yang dialami oleh Shannon menunjukkan adanya dukungan dari orang-orang yang tepat bisa membuat anak yang cacat seumur hidup atau dengan autisme menjalani kehidupan dengan baik. Temukan apa yang menjadi minat si anak dan eksplorasi bakatnya.

Menjadi hal yang penting untuk memberikan kesempatan bagi anak dengan autis untuk mengembangkan minat dan mengekspresikan dirinya.

sumber www.detik.com
»»  READMORE...

Bayi Sudah Belajar Mempercayai Orang Sejak Umur 1 Tahun

Florida, Sebelum kakinya menyentuh lantai di pagi hari, nenek Bernice Bates sudah melakukan beberapa pose yoga di atas tempat tidurnya. Di usia 91 tahun, nenek Bernice yang lincah bahkan masih menjadi pelatih yoga dan menjadi pelatih yoga paling tua di dunia.

Bernice Bates (91 tahun) sudah melakukan berbagai pose yoga sebelum beranjak dari tempat tidurnya, guna mengalirkan darah di seluruh tubuhnya. Ia meletakkan tangan di atas kepalanya, melakukan peregangan, menguap, menarik lututnya ke dada dan 'berjalan' di langit-langit dengan kaki dan peregangan bahu dan tangan.

Di usianya yang sudah tak muda lagi, Bernice masih menjadi pelatih yoga. Ia bahkan baru saja dinobatkan sebagai pelatih yoga tertua di dunia oleh Guinness World Record.

"Saya tidak memiliki penghargaan ini sendiri. Saya berbagi dengan semua siswa saya belajar selama bertahun-tahun," ujar Bernice Bates, seperti dilansir MSNBC, Kamis (8/12/2011).

Yoga telah menjadi cara hidup bagi Bernice, karena lebih dari setengah umurnya lebih diabdikan untuk yoga. Bernice mulai berlatih dan mengajar yoga hatha sejak sekitar tahun 1960. Alhasil, hingga kini badan Bernice menjadi sangat fleksibel, sehat dan bugar.

"Saya pikir yoga adalah latihan terbaik yang pernah ada. Saya tidak punya alasan apa-apa untuk pergi ke dokter, kecuali hanya untuk melakukan pemeriksaan," jelas Bernice yang memiliki berat badan 47,6 kg dan tinggi 157,5 cm.

Menurut Bernice, yoga melibatkan seluruh anggota tubuh seperti otot, ligamen dan organ-organ tubuh lainnya, yang dapat memberikan energi tanpa melelahkan tubuh.

"Yoga menggabungkan antara pikiran, tubuh dan jiwa dalam segala hal yang kita lakukan. Yoga memberikan fleksibilitas dan itu membuat Anda sehat karena bekerja pada seluruh tubuh, dalam dan luar," jelas nenek yang juga hobi berenang ini.

Bernice telah mengajarkan yoga pada anak-anak dan orang dewasa. Sekarang sia memimpin kelas 1 jam seminggu di Mainlands Retirement Community Center di Pinellas Park, Florida, tempat dia tinggal. Sebagian besar siswanya berusia 60-an dan 70-an tahun.

Dengan siswa yang mencari bimbingannya setiap minggu, guru yoga tertua di dunia ini mengaku akan terus mengajar yoga.

"Mengapa saya harus berhenti? Selama saya bisa melakukannya dan sangat membantu untuk orang lain, saya akan melakukannya selama saya bisa. Saya mendapatkan sukacita melihat seseorang belajar yoga," tutupnya

sumber www.detik.com
»»  READMORE...

12.07.2011

Ayah Lebih Besar Tularkan Gemuk ke Anak Ketimbang Ibu

Jakarta, Banyak kasus orangtua yang gemuk memiliki anak yang juga tak kalah gemuk. Ternyata memang anak berisiko mengalami kegemukan jika mempunyai orangtua yang kelebihan berat badan. Dan risiko anak menjadi gemuk lebih terjadi jika sang ayah mengalami kegemukan ketimbang penularan dari ibu yang gemuk.

Penelitian terbaru dari Universitas Newcastle di Australia menemukan bahwa ayah yang gemuk lebih berisiko menyebabkan anak ikut menjadi gemuk dibandingkan dengan ayah yang tidak gemuk. Tapi jika dalam suatu keluarga hanya ibu saja yang mengalami kelebihan berat badan, maka efeknya tidak sama.

Para peneliti mendasarkan temuannya pada data yang dikumpulkan dari penelitian panjang terhadap 3000 keluarga di Australia dari tahun 2004 hingga 2008. Peneliti melihat bobot anak-anak ketika berusia 4-5 tahun dan kemudian memeriksa lagi ketika mencapai usia 8 dan 9 tahun.

Penelitian yang dimuat dalam International Journal of Obesity ini kemudian menyimpulkan bahwa anak yang memiliki ayah gemuk 4 kali lebih mungkin mengikuti jejak ayahnya pada usia 8-9 tahun daripada anak-anak yang ayahnya memiliki berat badan normal.

Dr Emily Freeman, sang peneliti, masih belum mengetahui dengan jelas mengapa ayah yang kelebihan berat badan memiliki dampak besar pada pertumbuhan anak-anaknya. Satu teori yang masuk akal adalah makanan dan kebiasaan olahraga seorang ayah bisa mempengaruhi pola makan dan seberapa banyak aktivitas fisik yang dilakukan anak-anaknya.

"Kami pikir itu adalah yang paling mungkin sebab ayah merupakan teladan pola makan dan olahraga yang buruk. Dan ibu pada umumnya cenderung lebih memiliki banyak pengetahuan tentang berat badan, makanan, dan olahraga," kata Dr Freeman seperti dilansir NineMSN.com, Kamis (10/11/2011),

Dr Freeman mengatakan bahwa 25 persen anak-anak Australia mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Menurutnya, membantu ayah yang gemuk untuk menurunkan berat badan bisa mengurangi jumlah obesitas pada anak-anak.

sumber www.detik.com
»»  READMORE...

Bocah yang Otaknya Beracun

Derby, Inggris, Karena menderita gangguan neurologis fatal, Morgan Mawson yang baru berusia 4 tahun diprediksi tidak akan pernah merayakan ulang tahunnya yang ke-10. Penyakit langka dapat membuat Morgan kecil meninggal karena racun dari otaknya sendiri.

Morgan Mawson menderita penyakit langka Batten (Batten disease) yang hanya menyerang 1 dari 2 miliar orang. Penyakit genetis ini diturunkan dari kedua orangtuanya Jenni (28 tahun) dan Eddie (37 tahun) yang pembawa gen rusak penyebab penyakit Batten.

"Otaknya menghasilkan suatu bahan kimia yang dapat beracun tetapi Morgan tidak memiliki enzim yang dapat melarutkan bahan kimia itu, sehingga racun dapat membunuh otaknya sendiri," jelas Jenni, ibu Morgan yang tinggal di Derby, Inggris, seperti dilansir Dailymail, Kamis (10/11/2011).

Penyakit Batten adalah penyakit keturunan yang fatal. Gejala awal biasanya muncul saat kanak-kanak, antara usia 5 hingga 10 tahun, saat orangtua atau dokter melihat seorang anak yang sebelumnya normal mulai mengembangkan masalah penglihatan atau kejang. Pada beberapa kasus ada tanda-tanda halus seperti perubahan kepribadian dan perilaku, pembelajaran lambat, kecanggungan atau mudah tersandung.

Seiring waktu, anak dengan penyakit Batten mulai menderita gangguan mental, memburuknya kejang, kehilangan penglihatan dan keterampilan motorik (gerak) secara progresif. Akhirnya, anak-anak dengan penyakit Batten menjadi buta, harus berada di tempat dan pikun. Penyakit Batten sering fatal pada usia remaja atau 20-an tahun.

Saat lahir, Morgan tidak menunjukkan gejala apa-apa sehingga ketika tubuhnya gagal berkembang orangtua mulai menyadari ada suatu hal yang salah. Dokter mengatakan Morgan tidak akan mencapai usia 10 tahun karena racun tubuh yang mematikan perlahan-lahan akan menghancurkan otaknya sendiri.

Kini racun telah membunuh saraf di lengan, kaki dan mulut Morgan, sehingga ia tidak mampu berjalan, mengunyah dan berbicara dengan benar.

"Dia tidak bisa menyebutkan kalimat bersama-sama, hanya beberapa kata. Jika Anda tidak mengenalnya maka Anda tidak akan tahu apa yang ia katakan. Tingkah lakunya regresi (mundur ke belakang). Pada saat ini ia selalu membuang benda-benda dimana-mana dan dia ingin meletakkan segala sesuatu ke dalam mulutnya. Ini seperti pada tahap bayi," jelas Jenni.

Morgan terdiagnosis menderita penyakit Batten setahun sebelum kakaknya Mia ditemukan memiliki tumor otak yang jarang terjadi. Mia sering mengeluh sakit kepala yang menyiksa dan dokter menemukan craniopharyngioma, yaitu tumor jinak yang tumbuh pada kelenjar hipofisis, yang mengharuskannya mengonsumsi hormon pertumbuhan harian dan suntikan.

"Jika kami tidak berupaya dengan apa yang Mia telah lalui, saya tidak tahu bagaimana kami akan mengatasi (masalah yang hampir sama) untuk kedua kalinya. Kita harus menjadi auto pilot sepanjang waktu," ujar Jenni.

Untuk mengurus kedua buah hatinya, Eddie dan Jenni harus berhenti dari pekerjaan mereka. Mereka harus menjadi wali penuh untuk anak-anaknya.

"Kehidupan keluarga kami terdiri dari perjalanan ke rumah sakit, makan, merawat Morgan dan sterilisasi hal-hal yang berkaitan dengannya. Kami tidak bisa lagi fleksibel dengan hari-hari kami," jelas Jenni.

Namun pasangan ini mengatakan bahwa pengalaman ini membawa keluarganya selalu dekat dan melakukan banyak hal bersama-sama. "Orang kadang bertanya bagaimana kami mengatasi semua ini. Kami hanya menjalani hari-hari kami," tutup Jen

sumber www.detik.com
»»  READMORE...

9.20.2011

10 Negara Terbaik untuk Merawat Anak Sakit, RI Urutan 110


Jakarta, Save the Children Index mengurutkan 161 negara di dunia untuk perawatan anak yang sakit. Peringkat 10 terbaik didominasi negara-negara Eropa, sedangkan Indonesia ada di urutan 110.

Untuk kawasan Asia Tenggara, Indonesia kalah dari Singapura (peringkat 39), Malaysia (peringkat 69), Thailand (peringkat 79), Vietnam (peringkat 92) dan Filipina (peringkat 101). Dan dibawah Indonesia ada Myanmar (112), Timor Leste (154) dan Laos (159).

Singapura tercacat sebagai negara terbaik di Asia dengan mengalahkan Korea Selatan (44), Jepang (50), Korea Utara (53), China (72) dan India (137).

Penilaian mengenai negara-negara terbaik untuk merawat anak yang sedang sakit salah satunya berdasarkan pada berapa banyak petugas kesehatan yang tersedia untuk mengurus anak.

Peringkat ini didasarkan pada jumlah petugas kesehatan (seperti dokter, perawat, dan bidan) yang tersedia untuk setiap 10.000 orang di suatu negara, serta jangkauan mereka terhadap penduduk.

Selain itu, faktor proporsi anak-anak yang mendapatkan vaksinasi, serta ibu-ibu yang bisa mendapatkan perawatan darurat selama persalinan juga merupakan pertimbangan dalam ditentukannya urutan negara tersebut.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 23 petugas kesehatan untuk pelayanan 10.000 orang merupakan jumlah yang optimal untuk perawatan ibu dan anak-anak sesuai kebutuhan.

Amerika Serikat memiliki sekitar 125 petugas kesehatan untuk setiap 10.000 orang, maka negara tersebut berada pada urutan nomer 15, menurut indeks Save the Children. Sedangkan Somalia dan Chad berada pada urutan paling bawah, yaitu dengan rata-rata 7 petugas kesehatan untuk setiap 10.000 orang.

"Dalam beberapa negara-negara yang berada pada peringkat bawah, petugas kesehatan sangat terkonsentrasi di daerah perkotaan atau kota. Sehingga penduduk yang berada pada lingkungan pedesaan, mengalami kesulitan untuk mendapatkan perawatan kesehatan," laporan Save the Children, seperti dikutip dari Aol Healthy Living, Selasa (13/9/2011).

Negara-negara barat kebanyakan menduduki peringkat atas. Sedangkan negara-negara di Asia dan Afrika, kebanyakan mendominasi peringkat bawah. Berikut ini adalah 10 negara yang berada di peringkat atas, untuk perawatan anak-anak yang sedang sakit, antara lain:

Swiss
Finlandia
Irlandia
Norwegia
Belarus
Denmark
Swedia
Kuba
Uzbekistan
Jerman


Seperti halnya di Indonesia perawatan kesehatan yang layak hanya terpusat di daerah perkotaan saja. Sedangkan di daerah yang terpencil dan sangat terpencil belum mempunyai fasilitas dan tenaga medis yang mencukupi, meskipun hanya untuk pelayanan kesehatan dasar saja.

Menurut peringkat yang mencantumkan 161 negara yang disusun oleh nonprofit Save the Children, Indonesia juga termasuk dalam negara-negara yang berada pada peringkat bawah, yaitu menduduki peringkat 110. Beberapa masalah mengenai tenaga kesehatan di Indonesia, antara lain:

Distribusi tenaga kesehatan yang tidak optimal.
Formasi terbatas
Output tenaga kesehatan tertentu tidak dapat dikendalikan.
Daerah belum menyiapkan dana dan sarana untuk kesiapan sumber daya kesehatan, dalam mengantisipasi otonomi daerah.
Pengangkatan Pegawai Tidak Tetap (PTT) baru terbatas pada dokter spesialis, dokter, dokter gigi, dan bidan.
Insentif pusat hanya untuk PTT di daerah sangat terpencil.
Tidak semua daerah mengalokasikan dana untuk insentif.
Besaran insentif bervariasi.


Sedangkan, upaya yang telah dan akan dilakukan oleh pemerintah Indonesia, meliputi:

Mengembangkan sistem insentif untuk tenaga PTT yang bekerja di daerah sangat terpencil.
Penugasan khusus pada pulau-pulau terluar.
Kerjasama dengan Universitas Negeri/ Fakultas Kedokteran dalam penempatan dokter spesialis/residen senior, khusus di daerah-daerah terpencil, tertinggal, dan perbatasan.
Memberikan bantuan pendidikan spesialis utk percepatan peningkatan pelayanan Spesialistik (diutamakan untuk pemenuhan pada RS/RSUD yg sulit pemenuhannya).
Kebijakan pengangkatan tenaga medis sampai dengan usia 46 th utk mengisi kebutuhan daerah terpencil.
Menetapkan Permenkes 949/2007 disempurnakan dengan Permenkes 1239/2007 tentang kriteria Saryankes (sarana layanan kesehatan) di daerah terpencil.
sumber www.detik.com
»»  READMORE...

9.18.2011

1000 Hari Pertama sang Bayi Kunci Masa Depan Sepanjang Hidup


Jakarta, Banyak orangtua yang berjuang keras dan memberikan sekolah terbaik buat si anak demi masa depannya. Tapi sebenarnya kunci untuk kehidupan masa depan si anak bukan saat ia mulai sekolah melainkan di awal-awal hidupnya yakni 1000 hari pertama sejak di dalam kandungan (9 bulan) hingga ia berumur 2 tahun.

Periode 1000 hari pertama manusia itu, secara permanen dapat mempengaruhi kesehatan dan peluang si anak di masa depan dengan tubuh sehatnya. Periode tersebut menentukan apakah di masa depan si anak akan terkena diabetes, kelebihan berat badan hingga serangan jantung.

Teori ini dikembangkan setelah puluhan tahun diteliti oleh Profesor David Barker dan rekannya di Southampton University. Profesor Barker menemukan ada serangkaian tahapan yang kritis dalam perkembangan anak. Jika tahapan tersebut dilalui tidak sempurna maka akibatnya akan timbul di kemudian hari saat anak dewasa dan tua.

Profesor Barker percaya banyak masalah kesehatan yang muncul bisa ditelusuri kembali dengan melihat riwayat saat si anak di dalam rahim atau perkembangannya yang buruk di 2 tahun usia pertamanya.

Dicontohkannya, ibu yang mengonsumsi gizi buruk saat hamil, merokok, stres atau minum obat-obatan akan mempengaruhi seberapa baik plasenta bekerja dan bagaimana kondisi berat badan bayinya saat lahir.

Hasil penelitiannya menunjukkan bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2,5 kg maka peluangnya terkena penyakit jantung di kemudian hari, 2 kali lebih besar dibandingkan bayi yang lahir dengan berat sampai 4,2 Kg.

Menurut Profesor Barker ketika makanan di rahim tidak mencukupi, itu sangat mempengaruhi pertumbuhan awal otak si janin dan membuat jantungnya melemah karena berkurangnya aliran darah. Lalu bibit-bibit diabetes juga akan muncul sebelum proses kelahiran karena sel-sel pankreas yang berfungsi membuat insulin, perkembangannnya ada di dalam rahim. Kondisi di dalam rahim juga akan mempengaruhi berat badan si anak di masa mendatang.

Profesor Barker mengatakan banyak faktor-faktor yang terbentuk sejak dini yang tidak bisa diubah atau dibatalkan. Maka itu penting untuk menjaga kesehatan perempuan dan makan dengan baik agar generasi berikutnya tumbuh dengan baik.

"Bayi hidup dari tubuh ibu selama kehamilan, jadi ini adalah tentang membangun tubuh bayi agar dapat hidup lebih baik," kata Profesor Barker seperti dilansir dari dailymail, Rabu (17/8/2011).

Itulah mengapa ibu hamil harus benar-benar sehat agar bisa juga memberikan air susu ibu (ASI) ke bayinya. ASI adalah makanan terbaik baik selama 2 tahun masa pertumbuhan badan dan otaknya.


sumber www.detik.com
»»  READMORE...

6.20.2011

Yang Perlu Diketahui Orangtua dari Otak Remaja


Jakarta, Dramatis, tidak rasional dan suka berteriak meski tanpa alasan yang jelas mungkin menjadi salah satu ciri sifat anak remaja. Ada hal-hal yang orangtua perlu tahu tentang otak anak remajanya. Apa saja?

Masa remaja adalah masa peralihan yang membuat sebagian besar orang mengalami krisis mental yang sangat labil.

Saat remaja terjadi perubahan hormon yang drastis yang membuat gejolak di dalam tubuhnya. Perubahan hormon yang belum stabil ini membuat remaja gampang mengalami krisis mental yang berdampak besar pada mood (suasana hati) dan perilaku remaja.

Berikut beberapa hal yang perlu diketahui orangtua tentang apa yang terjadi pada otak anak remajanya, seperti dilansir Livescience, Selasa (10/5/2011):

1. Perkembangan periode kritis
"Otak terus berubah sepanjang hidup, tetapi ada suatu lompatan besar dalam perkembangan otak selama masa remaja," kata Sara Johnson, asisten profesor di Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health.

Seorang remaja mungkin akan melalui percepatan pertumbuhan, keterampilan kognitif baru dan kompetensi.

"Yang harus dipahami, tidak peduli seberapa tinggi anak-anak telah tumbuh dewasa atau bagaimana pakaian mereka, mereka masih dalam masa pemkembangan yang akan mempengaruhi sisa hidup mereka," kata Johnson.

2. Masa kedua pemekaran otak
Para ilmuwan terbiasa berpikir bayi memiliki koneksi neuronal yang 'meluap-luap', yang menjadi masa emas selama tiga tahun pertama kehidupan. Tetapi studi pencitraan otak, seperti yang diterbitkan pada Nature Neuroscience, telah menemukan bahwa ledakan kedua terjadi tepat sebelum pubertas pertumbuhan neuronal, memuncak pada sekitar usia 11 tahun untuk anak perempuan dan 12 tahun untuk anak laki-laki.

Reorganisasi struktur otak diperkirakan akan terus berlanjut sampai usia 25 tahun dan perubahan kecil terus terjadi sepanjang hidup.

3. Kemampuan berpikir baru
"Karena peningkatan materi otak, otak remaja menjadi semakin saling terkait keuntungan dan daya proses semakin meningkat," kata Johnson.

Menurut Johnson, remaja mulai memiliki kemampuan komputasi dan kemampuan pengambilan keputusan jika diberikan waktu dan akses informasi. Namun dalam masa 'panas' seperti itu, pengambilan keputusan bisa sangat dipengaruhi oleh emosi, karena otak remaja lebih mengandalkan pada sistem limbik (yang mengatur emosi di otak) daripada lebih korteks prefrontal rasional.

"Ini dualitas kompetensi remaja yang bisa sangat membingungkan bagi orangtua," kata Johnson.

4. Tantrum remaja
Remaja di tengah-tengah keterampilan luar biasa untuk mendapatkan satu kemampuan baru, terutama yang berhubungan dengan perilaku sosial dan pemikiran abstrak. Tapi mereka tidak pandai menggunakannya, sehingga harus bereksperimen dan kadang-kadang menggunakan orangtuanya sebagai kelinci percobaan.

Banyak anak usia ini melihat konflik sebagai semacam ekspresi diri dan mungkin mengalami kesulitan fokus atau pemahaman titik pandang orang lain. Remaja membutuhkan orangtua (karena orang dengan otak dewasa lebih stabil) untuk membantu untuk tetap tenang, mendengarkan dan menjadi teladan yang baik.

5. Perubahan emosi
"Pubertas adalah awal dari perubahan besar dalam sistem limbik, merujuk ke bagian otak yang tidak hanya membantu mengatur detak jantung dan kadar gula darah, tapi juga sangat penting untuk pembentukan memori dan emosi," kata Johnson.

Bagian dari sistem limbik, amigdala diharapkan menghubungkan informasi sensorik menjadi respons emosional. Perkembangan bersama dengan perubahan hormonal, dapat menyebabkan kemarahan, pengalaman baru yang intens, ketakutan, agresi (termasuk kepada diri sendiri), kesenangan dan daya tarik seksual.
sumber www.detik.com
»»  READMORE...

6.17.2011

Vaksin DBD yang Diujikan pada Anak SD Dijamin Aman


Jakarta, Ratusan anak SD menjalani vaksinasi Demam Berdarah Dengue (DBD) untuk pertama kalinya di Indonesia pada 8 Juni 2011. Meski masih dalam tahap uji coba, Menteri Kesehatan menjamin bahwa vaksin tersebut tidak akan membahayakan anak-anak.

Uji coba yang dilakukan kali ini merupakan uji klinis fase III, yang berarti vaksin tersebut sudah menjalani uji keamanan pada fase sebelumnya. Tujuan uji coba kali ini tidak lagi untuk melihat keamanannya, melainkan seberapa efektif dalam mengurangi kasus DBD.

Dalam 5 tahun ke depan, tim peneliti dari RS Cipto Mangunkusumo dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia akan mengamati jumlah kasus DBD pada anak yang divaksin. Jika lebih rendah dari yang anak-anak tidak divaksin, berarti vaksin tersebut efektif.

"Uji coba dilakukan serentak di 5 negara Asia, di Indonesia melibatkan 2.000 peserta. Soal keamanan, tidak akan pernah bisa suatu vaksin dicobakan pada fase III kalau belum terjamin keamanannya," ungkap Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih dalam jumpa pers di Gedung Kemenkes, Jl Rasuna Said, Jumat (10/6/2011).

Karena masih uji coba, Menkes mengakui bahwa vaksinasi ini belum direncanakan untuk menjadi program nasional. Hasil uji coba masih akan dievaluasi dulu, kemudian dinilai apakah cukup efektif untuk diberikan pada semua anak di seluruh Indonesia.

Selain di Jakarta, uji coba vaksin DBD juga dilakukan di Bandung dan Bali. Jumlah pesertanya beragam yakni 800 anak di Jakarta, 800 anak di Bandung dan 400 anak di Bali, seluruhnya akan disuntik vaksin sebanyak 3 kali dengan jeda masing-masing selama 6 bulan.

Target penurunan tingkat kematian DBD tercapai sejak 2006

Sementara itu Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL), Prof dr Tjandra Yoga Aditama mengatakan, tingkat kematian akibat DBD di Indonesia sudah bisa diturunkan menjadi 0,87 persen pada 2010. Target untuk menurunkannya hingga di bawah 1 persen bahkan sudah tercapai sejak 2006.

Meski demikian, jumlah penderitanya masih tinggi karena berbagai faktor seperti kepadatan penduduk, tata wilayah yang kurang baik, perubahan iklim dan juga kurangnya partisipasi masyarakat dalam menjalankan 3 M plus (Menguras, Menutup dan Mengubur plus Tindakan lain yang mencegah perkembangbiakan jentik nyamuk).

Sejak beberapa tahun terakhir, fogging atau pengasapan sudah tidak menjadi kebijakan utama pemerintah dalam mencegah penularan DBD. Kalaupun masih dilakukan, biasanya atas permintaan masyarakat sendiri karena merasa tidak puas hanya dengan 3M plus.

Fogging dinilai tidak efektif karena hanya memutus mata rantai sesaat, namun tidak bisa mengimbangi perkembangbiakan nyamuk yang selalu lebih cepat. Nyamuk-nyamuk yang tidak mati saat di-fogging, dalam 3 hari sudah menghasilkan nyamuk baru yang jumlahnya beberapa kali lipat.
sumber www.detik.com
»»  READMORE...

6.14.2011

Nyawa Gadis Kecil Ini Terancam Jika Makan


Buckinghamshire, Inggris, Setiap berangkat sekolah di pagi hari, Ella Campbell (5 tahun) selalu membawa bekal makanan. Tapi makanan itu tidak pernah dimakannya karena bisa membuat nyawanya terancam. Ia membawa bekal makanan agar bisa terlihat normal seperti anak-anak lainnya.

Gadis cilik asal Aylesbury, Buckinghamshire, Inggris ini tetap rutin membawa bekal makan siang yang akan dibukanya saat waktu istirahat. Makanan itu akan dibukanya seperti teman-temannya yang membuka bekal saat makan siang tiba. Tapi oleh Ella makanan itu tidak pernah disentuhnya.

Ella harus berjuang keras jika ingin makan karena memasukkan makanan ke mulut artinya menyiksa dirinya karena ia akan merasakan sakit luar biasa akibat penyakit langka yang dideritanya.

"Ella akan merasa sangat stres setiap kali ia harus makan siang di sekolah dan mengalami kesulitan lebih besar dibanding teman-temannya, karena baginya itu terlalu menyakitkan," ujar Karen Campbell (31 tahun) sang ibu, seperti dikutip dari Dailymail, Selasa (14/6/2011).

Karen mengungkapkan setiap kali Ella sampai di rumah ia akan langsung segera berbaring dan pada akhir minggu biasanya ia tidak memiliki energi bahkan untuk bersekolah sekalipun.

"Kondisi ini sangat membuat frustasi dan kami melihat begitu banyak dokter berbeda tapi tidak ada yang benar-benar tahu kondisi Ella. Dia sangat kecil, lemah dan selalu merasa dehidrasi. Saat itu adalah waktu yang menakutkan bagi kami," ungkapnya.

Karen mengungkapkan tahun lalu Ella sangat kurus dan terus pingsan hingga kehilangan kesadaran karena tidak bisa makan sama sekali. Ia bisa pingsan hingga 8-10 kali dalam sehari sampai ia mencapai usia 2 tahun.

Ia telah menghabiskan banyak waktunya di rumah sakit saat dokter tengah berjuang mendiagnosis penyakitnya. Setelah bertahun-tahun melakukan berbagai tes dan mesin pembantu melekat di tubuhnya, akhirnya dokter berhasil mendiagnosis penyakit Ella 3 tahun lalu di Great Ormond Street Hospital.

Ella tidak bisa makan karena memiliki kondisi berat yang disebut dengan eosinophilic gastrointestinal disease (EGD). Kondisi ini membuatnya memiliki reaksi keras terhadap makanan termasuk rasa sakit yang hebat dan muntah.

Saat ini ia diberi susu formula khusus atau hypoallergenic formula melalui tabung pengisi yang permanen melekat di perutnya, itu makanan yang dikonsumsinya sedangkan jika minum ia bisa melalui mulut seperti biasa. Ia juga diwajibkan mengonsumsi imunisupresan (sejenis obat kemoterapi) secara teratur.

"Karena ia mengonsumsi imunosupresan, maka ia menjadi lebih rentan terhadap infeksi dan penyakit lain yang berpotensi menjadi lebih serius. Untuk itu kami harus selalu waspada dan membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan antibiotik guna melawan infeksi," ujar Karen.

Gangguan eosinophilic terjadi ketika eosinofil (sejenis sel darah putih) ditemukan dalam jumlah di atas normal di berbagai bagian tubuh. Ketika tubuhnya bertemu dengan alergen, maka eosinofil akan berkembang biak dalam jumlah abnormal. Sel ini bukan untuk melawan alergi tapi justru menyerang tubuh yang menyebabkan peradangan dan kerusakan jaringan.

Sementara itu Adam (2 tahun) yang merupakan adik dari Ella juga didiagnosis penyakit yang sama saat lahir. Tapi ia bisa makan sejumlah kecil buah-buahan, sayuran dan daging tertentu, meski tetap harus mempertahankan diet yang sangat ketat.

"Kondisi ini sangat sulit bagi saya dan suami, karena kita merasa tidak berdaya untuk menghentikan rasa sakit tersebut. Tapi Ella telah menjadi gadis yang sangat berani dan kami telah melalui banyak hal," imbuhnya.
sumber www.detik.com
»»  READMORE...

5.17.2011

Remaja Andalkan Kopi untuk 'Kesibukannya' di Larut Malam


Jakarta, Kebiasaan remaja tidur hingga larut malam tidak hanya mengganggu pertumbuhan, tetapi juga bikin gemuk. Semakin malam tidur makin banyak asupan yang ditelan dan kafein jadi pilihan utama.

Penelitian yang dilakukan Christina Calamaro, Ph.D menemukan alasan remaja tidur hingga larut malam adalah karena terlalu sibuk untuk:

Mengirim email
SMS
Chatting
Menonton TV
Bermain game komputer


"Untuk tetap melakukan kegiatan itu dan tetap terjaga remaja minum banyak kafein," jelas Christina Calamaro, Ph.D., yang meneliti kaitan antara tidur dan obesitas pada remaja, seperti dilansir Psycentral, Minggu (15/5/2011).

Dalam penelitiannya, Calamaro mengumpulkan hasil wawancara dari 100 remaja usia 12 hingga 18 tahun. Penelitian menemukan bahwa remaja yang sering tidur malam lebih banyak mengonsumsi kafein, sehingga makin sedikit waktu tidur yang mereka miliki.

Hasil penelitian yang telah dipublikasikan pada jurnal Pediatrics menemukan 85 persen dari remaja dalam penelitian tersebut minum kafein dengan porsi harian, dan 11 persen minum kafein lebih dari 400 mg kafein dalam sehari, yang setara dengan 4 gelas.

"Ini bukan hanya tentang kafein, tapi ini tentang kalori," kata Calamaro.

Makin banyak kalori yang ditimbun dalam tubuh maka semakin besar kemungkinan tubuh mengalami obesitas (kegemukan) yang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit berbahaya, seperti diabetes, penyakit jantung.

Studi lain yang dilakukan oleh peneliti George Institute for Global Health di Sydney, menunjukkan bahwa remaja yang kurang tidur lebih mungkin terkena penyakit mental.

Berdasarkan hasil studi tersebut, orang yang tidur kurang dari 5 jam setiap malam, tiga kali lipat lebih mungkin mengalami penyakit mental ketimbang orang yang tidur 8-9 jam setiap malam.

Remaja dan dewasa muda usia antara 17 sampai 24 tahun seharusnya memiliki waktu tidur rata-rata 8 atau 9 jam per malam.
sumber detik.com
»»  READMORE...

5.16.2011

Ekstasi Bisa Berguna untuk Terapi Autisme




New York City, Ekstasi merupakan salah satu dari obat terlarang yang banyak digunakan di Indonesia, selain kokain, ganja dan heroin. Tapi penelitian baru menemukan bahwa ekstasi bisa berguna untuk dijadikan terapi autisme.

Ekstasi atau dikenal juga sebagai MDMA (Methylene Dioxy Meth Amphetamine) telah dikenal dapat meningkatkan perasaan bahagia, euforia, rasa keintiman dengan orang lain, serta meredakan depresi dan kegelisahan, meski obat ini juga sangat berbahaya bila disalahgunakan.

"Efek empathogenic ini menunjukkan bahwa MDMA bisa berguna untuk meningkatkan psikoterapi bagi pasien yang mengalami masalah komunikasi, seperti autisme, skizofrenia atau gangguan kepribadian antisosial lain," jelas Gillinder Bedi, asisten profesor psikologi klinis di Columbia University dan peneliti di New York State Psychiatric Institute, New York City, seperti dilansir Medindia, Senin (3/1/2011).

Menurut Bedi, ekstasi dapat mempengaruhi neuron di otak yang menggunakan serotonin neurotransmitter untuk berkomunikasi dengan neuron lainnya.

Serotonin kimia otak yang disebut hormon oksitosin memainkan peranan penting dalam mengatur suasana hati, agresi, tidur dan kepekaan terhadap rasa sakit, juga terkait dengan ikatan sosial dan salah satu hormon yang dapat mengurangi efek dari kortisol (hormon pemicu stres).

"Dalam konteks pengobatan, efek ini bisa meningkatkan keakraban pada orang-orang yang mengalami kesulitan merasa dekat dengan orang lain," kata John Krystal, editor Biological Psychiatry.

Sayangnya, ekstasi sering digunakan kalangan 'club drug' saat menikmati hiburan malam hari. Obat ini sering disalahgunakan dengan cara dikombinasikan dengan alkohol, sehingga memiliki efek yang dapat berpotensi mengancam nyawa.

"Meski demikian diperlukan lebih banyak penelitian mengenai pengontrolan ekstasi untuk menentukan apakah obat ini bisa dengan aman dan efektif menjadi obat psikoterapi untuk beberapa kondisi," ungkap Bedi.

Temuan sebelumnya yang telah dipublikasikan dalam Journal of Psychopharmacology juga menunjukkan bahwa ekstasi dapat berguna bagi orang dengan gangguan stres pasca-trauma (post-traumatic stress disorder atau PTSD), misalnya trauma pelecehan seksual.

Dr. Michael Mithoefer yang melakukan studi ekstasi dan PTSD sebelumnya menuturkan sangat penting untuk menyelidiki terapi baru yang potensial. Dan hal ini tidak boleh dicegah hanya karena ada sesuatu yang disalahgunakan.

"Banyak hal yang bisa mengancam jiwa atau berbahaya jika digunakan secara tidak benar. Tapi jika digunakan dengan bijaksana dan benar, maka ada banyak hal yang juga bisa membantu," ungkap Dr Mithoefer.
sumber www.detik.com
»»  READMORE...

4.18.2011

Reaksi Balita Ketika Orangtua Bilang Um.. Uh..


New York, Orangtua kadang merasa bersalah ketika terbata-bata menjelaskan sesuatu ke balitanya. Saat orangtua tidak lancar mengatakan sesuatu biasanya ada jeda kata 'Um' (baca: Em atau seperti menggumam) atau 'Uh' (baca: Eh). Tapi omongan ragu-ragu Um dan Uh tersebut ternyata berguna buat balita.

Ilmuwan kognitif menemukan orangtua yang tersandung bicaranya atau ragu-ragu yang istilah teknisnya disebut disfluencies justru membantu balita mereka untuk belajar bahasa yang lebih efisien.

Penelitian ini dilakukan oleh Katherine White dan Richard Aslin dari University of Rochester. Hasil penelitiannya ini telah dipublikasikan secara online di jurnal Developmental Science pada 14 April 2011.

Ketika orangtua sedang mencari kata-kata yang tepat dengan bilang 'Um' atau 'Uh', saat itu menurut peneliti orangtua sudah mengirimkan sinyal ke anak akan adanya kata baru. Sehingga saat orangtua sedang kebingungan berkata 'Um' atau 'Uh' justru balita lebih serius memperhatikannya.

Jeda waktu dengan berkata 'Um' atau 'Uh' membuat balita penasaran akan adanya kata baru yang akan diucapkan orangtua. Proses belajar seperti ini lebih mudah memancing anak untuk memperhatikan bakal adanya kata baru, ketimbang si anak menunggu saja kata-kata baru yang diucapkan orang dewasa yang ternyata bagi balita itu tugas yang jauh lebih berat.

"Ketika lebih banyak menerka sebuah pembicaraan dapat membuat apa yang akan dikomunikasikannya dan didengar menjadi lebih mudah dipahami," kata Profesor Richard Aslin seperti dilansir dari Sciencedaily, Minggu (17/4/2011).

Untuk penelitian tersebut, peneliti mempelajari tiga kelompok balita usia 18-30 bulan. Setiap anak di pangku orangtuanya duduk di depan monitor yang dilengkapi dengan perangkat pendeteksi mata.

Percobaan satu dengan dua gambar dimunculkan di layar, satu gambar yang sudah akrab dengan anak-anak seperti bola atau buku dan satu lagi gambar yang dibuat dengan nama-nama seperti DAX atau Gorp. Percobaan lain dengan sebuah rekaman suara yang berbicara tentang benda-benda dengan kalimat sederhana. Ketika rekaman suara tersebut berkata "Lihatlah... Uh..", balita ternyata akan lebih memperhatikan gambar-gambar yang dibuat sesering mungkin atau hampir 70 persen untuk memperhatikannya.

Tapi dalam penelitian tersebut balita yang merespons kata 'Um' atau 'Uh' lebih intens adalah balita yang berusia lebih dari 2 tahun (lebih dari 24 bulan). Sedangkan balita di bawah usia 2 tahun belum kelihatan adanya efek dari disfluencies (kata-kata jeda).

Anak-anak usia 2-3 tahun biasanya berada pada tahap perkembangan yang pesat di mana mereka bisa membentuk kalimat sederhana dari dua hingga empat kata panjang. Dan mereka biasanya sudah memiliki beberapa ratus kata.

Meski begitu peneliti tidak menyarankan orangtua untuk selalu menambah disfluencies (kata-kata jeda) karena jika terus-terusan dilakukan gaya tersebut bisa ditiru anak. Tetapi sesekali bisa dilakukan untuk memancing anak penasaran dengan kata baru. Jadi ketika orangtua sekali-sekali berkata 'Um' atau 'Uh', anak sudah tahu itu petunjuk belajar untuk kata baru.
sumber www.detik.com
»»  READMORE...

Cara Menenangkan Anak Sekolah Agar Tak Panik Hadapi Ujian Akhir


Jakarta, Ujian sekolah terutama ujian akhir membuat kebanyakan anak sekolah terutama remaja yang masih labil menjadi panik dan mudah stres. Bagaimana cara orangtua menenangkan putra putrinya yang panik jelang ujian?

Stres adalah perasaan dari ketegangan fisik, mental atau emosional atau ketegangan yang bisa mengganggu keseimbangan fisiologis normal. Stres dapat terjadi pada siapa pun, namun bisa sangat sulit bagi anak sekolah yang belum memliki kemampuan emosi yang seimbang. Dan ujian sekolah bisa sangat mudah membuat mereka stres dan panik.

Berikut beberapa gejala stres dan kecemasan yang biasanya ditunjukkan anak sekolah jelang ujian, seperti dilansir militaryschoolalternatives, Minggu (17/4/2011):

Susah tidur hingga menjadi kurang tidur
Kesulitan bernapas,
Kehilangan nafsu makan atau makan yang tidak teratur
Menunjukkan perilaku adiktif perilaku seperti merokok atau minum
Menangis berlebihan atau tidak terkendali
Agresi atau perubahan suasana hati
Sering mengalami serangan panik.


Lalu apa yang harus dilakukan orangtua?

Salah satu tanda-tanda stres pada anak sekolah menjelang ujian di atas harus diwaspadai oleh orangtua. Untuk membantu mengatasi stres dan tetap fokus, orangtua harus mendorong anak untuk mengatur waktu, makan dan tidur nyenyak, olahraga, dan meminta bantuan ketika mereka membutuhkannya. Orang tua juga dapat lebih memahami perilaku, suasana hatinya pada saat stres.

Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua saat putra atau putri remajanya sedang menghadapai stres jelang ujian:

1. Terlibat dalam proses belajar
Orangtua perlu dilibatkan dalam proses belajar remaja. Hal terbaik adalah hanya untuk mendengarkan. Yang remaja cari adalah keberadaan Anda, untuk berbicara, menangis atau hanya untuk duduk bersama mereka saat belajar agar tenang. Berkomunikasi secara terbuka dengan anak remaja Anda, dapat mendorong remaja untuk mengekspresikan kekhawatiran dan ketakutan, tapi jangan biarkan mereka berfokus pada ketakutan.

Bantu anak remaja Anda melakukan yang terbaik, tapi cobalah untuk tidak menekan atau membuatnya merasa bahwa Anda akan kecewa jika ia tidak melakukannya hal yang terbaik.

Mencoba menjejalkan semua informasi pada menit terakhir hanya akan menyebabkan stres anak remaja Anda. Bantu mengatur target belajar realistis untuk mencegah stres dan meningkatkan proses pembelajaran anak remaja Anda.

2. Menyediakan suasana yang tenang untuk belajar
Sediakankan tempat atau ruangan yang tenang untuk putra putri Anda belajar. Anda juga bisa membantunya belajar bila ia memintanya.

3. Memberi makanan yang bergizi
Sangat penting bagi anak remaja Anda untuk makan yang sehat dan seimbang pada saat ujian agar tetap fokus dan melakukan yang terbaik. Stres menjelang ujian dapat membuat beberapa remaja kehilangan nafsu makan.

Beberapa nutrisi yang penting untuk otak anak menjelang ujian antara lain protein pada telur, kacang, biji-bijian dan kacang-kacangan, serta asam lemak omega-3 pada ikan.

Hindari makanan yang mengandung karbohidrat sederhana seperti bubur atau nasi putih, karena akan mudah membuat anak mengantuk. Gantilah karbohidrat sederhana dengan karbohidrat kompleks seperti roti gandum atau kentang rebus. Karbohidrat ini akan membuatnya merasa kenyang lebih lama dan meningkatkan energi.

Menjelang ujian sekolah, siswa juga harus menghindari konsumsi kopi dan minuman ringan tinggi gula. Kafein pada kopi dan minuman ringan dapat menyebabkan kegelisahan dan mengganggu kemampuan otak untuk fokus.

4. Bantu anak untuk bersantai
Pastikan anak Anda mendapatkan tidur yang cukup sebelum ujian. Buat ia merasa santai dan tenang. Pastikan juga ia melakukan olahraga yang bisa mengurangi stres.

5. Tunjukkan sikap positif
Sikap orangtua akan menentukan emosi remaja. Jika Anda panik maka akan membuat anak semakin tertekan dan meningkatkan stres. Buat remaja merasa diterima dan hargai setiap usaha yang dilakukannya. Yang paling penting, yakinkan anak remaja Anda bahwa segala sesuatunya akan baik-baik saja, tidak peduli apapun hasilnya.
sumber www.detik.com
»»  READMORE...

4.11.2011

Pubertas Pria Itu Tandanya di Testis Bukan Mimpi Basah


Jakarta, Apa tanda awal anak laki-laki mulai pubertas? Kebanyakan orang akan menjawab mimpi basah. Anggapan itu ternyata salah, karena awal pubertas laki-laki ditandai oleh pembesaran testis atau buah zakar bukan dari mimpi basah.

Pubertas adalah masa transisi antara anak dan dewasa. Pubertas tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi terjadi secara bertahap. Tanda yang paling sering ditemui adalah perubahan fisik dan psikologis.

"Orang sering menganggap bahwa awal pubertas pada anak laki-laki adalah mimpi basah, padahal bukan itu. Pubertas pada laki-laki ditandai dengan terjadinya pembesaran testis," jelas dr Aditya Suryansyah Semendawai, Sp.A, dalam acara Talkshow Media dan Peluncuran Buku 'Panik Saat Puber? Say No!!!' di Magenta Cafe, Pacific Place, Jakarta, Rabu (6/4/2011).

Lebih lanjut dr Aditya menjelaskan bahwa awal pubertas pada laki-laki ditandai dengan pembesaran testis atau buah zakar sekitar lebih dari 3 ml. Perubahan ini kemudian akan diikuti dengan pertumbuhan penis, rambut pubis (kemaluan) dan perubahan suara.

"2 tahun setelah testis membesar barulah si anak laki-laki mengalami mimpi basah. Jadi mimpi basah itu bukan tanda awal pubertas," jelas dr Aditya yang merupakan spesialis anak di RSAB Harapan Kita.

dr Aditya juga menjelaskan bahwa pada pertengahan masa pubertas akan terjadi pertumbuhan tinggi badan yang cepat.

"Seringkali terlihat awal pubertas anak perempuan lebih cepat besar, tapi setelah beberapa tahun anak laki-laki menyusul tinggi badannya," tutur dr Aditya yang mendalami masalah hormon pertumbuhan.

Yang sering menjadi masalah, banyak orangtua yang kesulitan menentukan kapan anak laki-lakinya mulai remaja. Hal ini menurut dr Aditya karena jarang orang yang memeriksa besarnya testis anak.

"Dari studi yang saya lakukan di Ciputat, Pamulang, 2 dari 215 anak laki-laki tidak punya 'telur' dan ini tidak terlacak. Ya ini karena orangtuanya tidak tahu dan tidak diperiksakan. Padahal sedari lahir, testis ini harus diperiksa apakah tumbuh secara normal dan pembesaran testis akan jadi tanda awal pubertas," jelas dr Aditya.

Secara normal, lanjut dr Aditya, anak laki-laki mengalami pubertas pada usia 9 sampai 14 tahun. Sedangkan pada anak perempuan secara normal terjadi pada rentang usia 8 hingga 13 tahun.

Tapi usia awal datangnya pubertas juga bervariasi pada masing-masing anak. Ada beberapa faktor yang mempengaruhinya , antara lain seperti disebutkan dr Aditya adalah:

Etnis
Keadaan sosial
Psikologis
Nutrisi
Aktivitas
Penyakit kronis


"Beberapa faktor ini juga bisa menyebabkan anak mengalami pubertas dini atau malah pubertas terlambat," kata dr Aditya.
sumber www.detik.com
»»  READMORE...

3.24.2011

Ekspresi Wajah Orangtua Pengaruhi Selera Makan Anak


Jakarta, Anak-anak kadang susah mengonsumsi jenis makanan tertentu seperti sayuran. Untuk mengatasinya cobalah orangtua memberikan ekspresi wajah tersenyum saat makan sayuran di depan anak-anak.

Anak-anak umumnya dipengaruhi oleh faktor emosi. Jika anak-anak melihat orangtuanya bahagia atau tersenyum saat mengonsumsi makanan tertentu maka kondisi ini akan membuat anak menginginkan makanan tersebut.

Dalam studi ini tim peneliti dari Perancis meminta 120 orang dewasa dan anak-anak untuk melihat berbagai foto orang yang sedang makan. Pada anak-anak efek dari foto jauh lebih rumit dibandingkan dengan orang dewasa.

Secara umum orang dewasa akan memperhatikan berat badan dari orang yang ada di foto, sedangkan anak-anak memiliki reaksi yang lebih kompleks dan cenderung memperhatikan ekspresi wajah foto tersebut serta tidak terlalu memperhatikan berat badannya apakah gemuk atau berat badan normal.

Jika anak diberikan foto orang dengan ekspresi wajah bahagia, maka akan membuat anak menginginkan makanan tersebut. Tapi jika diberikan foto orang dengan ekspresi jijik cenderung membuat anak-anak tidak mau mengonsumsinya.

Jika seorang anak tidak menyukai makanan tertentu, maka dengan memberikannya ekspresi wajah yang menyenangkan akan membuat anak lebih terbuka terhadap makanan tersebut.

"Reaksi yang muncul pada anak-anak kadang tidak bisa diduga," ujar peneliti Sylvie Rousset dari French National Institute for Agricultural Research, seperti dikutip dari Foxnews, Kamis (24/3/2011).

Rousset menuturkan anak-anak lebih mungkin meniru emosi orang-orang disekitarnya, karena itu ekspresi wajah yang muncul saat mengonsumsi makanan akan memiliki dampak yang lebih besar pada anak-anak dibanding orang dewasa. Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal Obesity.

Bagi orangtua yang ingin anaknya menyukai makanan sehat, cobalah memberikan ekspresi wajah bahagia saat mengonsumsinya. Meskipun ekspresi wajah sering terbentuk secara otomatis ketika seseorang mengonsumsi makanan yang enak atau kurang lezat.

Untuk itu kalau orangtua mau anaknya mengonsumsi makanan sehat, maka orangtua harus memberikan contoh healthy habit pada anaknya.
sumber www.detik.com
»»  READMORE...

3.17.2011

Habis Minum Susu, Anak Sebaiknya Minum Air Putih


Jakarta, Kadar gula yang tinggi dalam susu formula bisa memicu pertumbuhan bakteri penyebab gigi berlubang, terutama pada bayi dan anak-anak. Sesudah anak selesai minum susu, biasakan untuk 'membilas' mulutnya dengan minum segelas air putih.

Anjuran umum yang banyak dilakukan para orangtua ini dibenarkan oleh ahli gizi dari Universitas Indonesia, dr Samuel Oetoro, MS, SpGK dalam peluncuran kampanye Mulai Hidup Sehat dari Sekarang yang diprakarsai Danone-Aqua di XXI Ballroom, Djakarta Theatre, Jakarta, Rabu (16/3/2011).

"Susu mengandung karbohidrat dan laktosa (bentuk lain dari gula), yang bisa melekat di gigi lalu merusak lapisan email. Jadi anjuran itu benar, membersihkannya memang bisa dilakukan dengan kumur-kumur lalu minum air putih," ungkap dr Oetoro.

Di dalam mulut, gula menciptakan lingkungan yang baik bagi pertumbuhan bakteri jahat yang bisa merusak email atau lapisan terluar gigi. Akibatnya gigi menjadi berlubang, membusuk atau caries dan bahkan bisa menyebabkan gusi bengkak karena infeksi.

Selain dipicu oleh susu, gigi berlubang juga disebabkan oleh makanan atau minuman lain yang juga mengandung gula. Apalagi bagi anak-anak yang masanya suka jajan, jenis makanan yang paling disukai umumnya makanan manis seperti permen dan gulali.

Gigi yang paling rentan mengalami pembusukan maupun berlubang biasanya adalah gigi geraham. Selain karena posisinya paling belakang, gigi geraham paling banyak memiliki alur dan celah yang kadang-kadang sulit dijangkau saat menggosok gigi.

Meski gigi anak belum permanen dan akan tanggal suatu saat nanti, namun jika berlubang maka tetap akan berdampak pada kualitas hidupnya. Misalnya jika terjadi infeksi, maka anak akan mengalami demam dan akibatnya tidak bisa bermain dan masuk sekolah.
sumber www.detik.com
»»  READMORE...