Tampilkan postingan dengan label Kekuatan tubuh kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kekuatan tubuh kita. Tampilkan semua postingan

12.10.2011

Asma Tak Mengurangi Kemampuan Seks Asal Terkontrol

Jakarta, Hubungan seks membutuhkan konsumsi oksigen yang tak sedikit sehingga banyak yang mengira orang asma akan sulit melakukannya. Namun jika dilakukan secara terukur, seks maupun aktivitas fisik lainnya tidak akan memicu kambuhnya asma.

"Saat terjadi serangan asma memang susah. Boro-boro mikir seks, bernapas saja tidak bisa. Tapi di luar itu, orang asma adalah orang normal. Begitu juga kemampuan seksnya," ungkap dr Anita Ratnawati, SpKFR(K), spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi dari RS Persahabatan dalam talk show You Can Control Your Asthma di RS Persahabatan, Rawamangun, Kamis (9/6/2011).

Menurut dr Anita, belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa asma mempengaruhi libido atau gairah seks. Kalaupun ada beberapa orang yang libidonya turun atau justru meningkat karena asma, ia menduga hal itu hanya kebetulan dan tidak akan terjadi pada semua orang.

Asma juga tidak mempengaruhi stamina saat berhubungan seks maupun aktivitas fisik lainnya, asal benar-benar dikontrol supaya tidak memicu kekambuhan (exercise induced asthma). Bahkan menurut dr Anita, penyandang asma justru dianjurkan untuk menjalankan aktivitas fisik khususnya olahraga secara rutin.

"Secara umum, olahraga tidak akan memperbaiki fungsi paru. Tapi latihan fisik terbukti mampu meningkatkan kebugaran paru dan jantung sehingga mengi (asma) tidak memburuk," tambah dr Anita.

Agar aktivitas fisik tidak memicu exercise induced asthma, penyandang asma yang ingin berolahraga harus memperhatikan F.I.T yang merupakan kependekan dari Frequency, Intensity dan Time.

1. Frequency
Idealnya olahraga bagi penyandang asma tidak lebih dari 3-5 kali/minggu.

2. Intensity
Denyut nadi merupakan indikator yang paling mudah diamati untuk menentukan berat tidaknya aktivitas fisik. Batas aman bagi penyandang asma adalah 60-80 persen dari denyut nadi maksimal. Cara menghitung denyut nadi maksimal adalah 220 dikurangi umur.

Misalnya umur 30 tahun, maka denyut jantung maksimal adalah 220-30 = 190 kali/menit. Maka batas aman bagi penyandang asma saat melakukan olahraga atau aktivitas fisik lainnya adalah (60-80) persen x 190 = 114-152 kali/menit.

3. Time
Durasi yang disarankan bagi penyandang asma saat menjalankan aktivitas fisik yang berat adalah 30 menit, atau jika sudah merasa letih.

"Sama seperti aktivitas fisik yang lain, kadang-kadang hubungan seks juga bisa jadi pemicu serangan asma atau exercise induced asthma. Apalagi jika dilakukan sama selingkuhan, soalnya pasti berdebar-debar takut ketahuan," ungkap dr Anita sambil bercanda.

sumber www.detik.com
»»  READMORE...

12.08.2011

9 Gerakan Olahraga yang Sering Dilakukan dengan Salah

Jakarta, Saat olahraga seringkali orang melakukan gerakan yang salah. Meskipun saat di gym seseorang didampingi oleh instruktur, namun tetap saja masih ada kemungkinan melakukan gerakan yang salah.

"Tubuh dapat diatur untuk bergerak dengan cara yang tepat. Gerakan olahraga yang salah justru dapat memberikan tekanan yang berlebihan pada tubuh, atau bahkan dapat menyebabkan cedera. Cedera tersebut akan menghambat kemajuan latihan atau bahkan mengganggu aktivitas sehari-hari," kata ahli fisiologi olahraga Michele Olson.

Berikut 9 kesalahan gerakan saat olahraga yang sering dilakukan seperti dikutip dari FoxNewsHealth, Kamis (8/12/2011) antara lain:

1. Angkat beban di atas kepala terlalu lama dan terlalu keras
Kesalahan: Melengkungkan badan ke belakang sehingga tulang rusuk menonjol, hal tersebut dapat menyebabkan atau berisiko cedera bahu.

Cara mengatasinya: Menjaga tulang rusuk ke bawah dan lutut sedikit ditekuk saat angkat beban.

2. Langkah yang pendek saat akan melompat
Kesalahan: Mengambil langkah yang pendek dan ragu-ragu ketika akan melompat dapat menyebabkan tekanan yang berlebihan pada lutut depan. Hal tersebut dapat berisiko untuk melukai tendon. Sehingga jika melakukan gerakan yang salah tersebut selama jangka panjang dapat menyebabkan artritis.

Cara mengatasinya: Ambil sebuah langkah yang cukup besar sehingga tumit depan berada sekitar 2 meter di depan lutut belakang.

3. Sit up tidak berfokus pada otot inti
Kesalahan: Hasil penelitian telah menemukan bahwa, gaya latihan Pilates yang lebih berfokus pada menggunakan otot inti untuk menstabilkan akan lebih efektif dalam latihan daripada dengan membungkukkan atau menekuk tulang.

Cara mengatasinya: Tidak perlu untuk melarang sit up sama sekali, tetapi pastikan untuk melakukan campuran gerakan yang dapat menstabilkan latihan, seperti Pilates.

4. Cara peregangan yang salah
Kesalahan: Sambil membungkuk dan membiarkan seluruh tubuh menjuntai lurus ke bawah, sementara berat badan meraih jari-jari kaki untuk meregangkan paha belakang. Hal tersebut sama dengan menempatkan sekitar 600 pon tekanan pada tulang belakang atau pada wanita sekitar 140 pon.

Berat badan seluruh tubuh mengikuti gaya gravitasi. Gaya gravitasi tersebut akan memusatkan beban pada bagian belakang, sehingga membebani tulang belakang. "Melakukan peregangan seperti ini selama 30-60 detik dapat menyebabkan tulang belakang rentan untuk pecah," kata Olson.

Cara mengatasinya: Duduklah dan meletakkan beban saat meraih jari-jari kaki. Peregangan yang sama persis dilakukan dari posisi duduk akan jauh lebih aman.

5. Mengangkat beban terlalu tinggi
Kesalahan: Mengepakkan tangan terlalu tinggi saat mengangkat beban. Hal tersebut dapat menyebabkan tulang lengan atas membebani ruang tulang rawan," kata Olson.

Cara mengatasinya: Mengangkat beban tidak terlalu tinggi.

6. Dagu menempel pada leher saat gerakan membungkuk
Kesalahan: Menempelkan dagu pada leher dalam latihan apapun, sehingga menyebabkan rasa sakit pada leher.

Cara mengatasinya: Menjaga dagu agar tidak menempel pada leher atau dada saat membungkuk.

7. Mempertahankan gerakan yang salah
Kesalahan: Mengangkat pinggul saat gerakan seharusnya kepala, pinggul, dan tumt berada dalam garis lurus. Tentunya dengan gerakan tersebut, hasil yang didapat kurang efektif.

Cara mengatasinya: Fokus pada menjaga tubuh dalam garis lurus dari kepala, pinggul, dan tumit. Perlu diingat bahwa lebih baik untuk menahan bentuk gerakan yang sempurna selama 20 detik daripada melakukan 1 menit penuh dengan gerakan yang salah.

8. Push up dengan gerakan yang salah
Kesalahan: Posisi tangan lebih lebar dari bahu ketika melakukan push up. Hal tersebut dapat menempatkan tekanan pada bagian depan bahu.

Cara mengatasinya: Masuk ke posisi push up dengan pergelangan tangan secara langsung di bawah bahu. Gerakan push up yang benar tidak akan menyebabkan bahu terasa tegang.

9. Gerakan peregangan yang dilakukan sebelum lari salah
Kesalahan: Sebelum berlari, ketika melakukan posisi peregangan seperti di lantai dengan lutut ditekuk ke dalam dan telapak kaki berpaling ke luar menekan lutut, akan rentan terhadap cedera.

Cara mengatasinya: Untuk peregangan yang lebih aman dengan tekanan pada lutut yang kurang dapat dilakukan dengan memutar lutut ke luar, sehingga menekan paha bagian dalam. Kemudian meraih jari-jari kaki untuk merasakan peregangan.

sumber www.detik.com
»»  READMORE...

10.31.2011

Penyelam Lebih Jarang Kena Sakit Kepala


Jakarta, Meskipun tekanan air dapat menyebabkan sakit kepala, penyelam profesional ternyata lebih jarang mengalami sakit kepala dibandingkan orang sehat pada umumnya.

Tekanan air yang tinggi menempatkan seseorang dalam bahaya ketika menyelam. Kesalahan ketika naik atau turun dengan tidak benar dapat menyebabkan cedera pada organ vital karena tekanan udara dalam tubuh ikut naik turun. Teknik menyelam yang tidak benar juga dapat menyebabkan terbentuknya gelembung gas dalam aliran darah.

Penyelam juga diketahui mengalami perubahan-perubahan struktural tertentu dalam otaknya dan memiliki gumpalan kecil dalam pembuluh darah otak akibat tekanan fisik yang dialami ketika menyelam.

Untuk mengetahui apakah efek tersebut dapat menyebabkan sakit kepala, Dr Roberto Di Fabio bersama timnya merekrut 201 orang pria yang bekerja sebagai penyelam untuk instansi penyelamat dan pemadam kebakaran Italia dan satu kelompok kontrol yang belum pernah menyelam.

Kedua kelompok menjalani ujian neurologis dan diamati rincian jumlah sakit kepala dan migrainnya selama satu tahun.

Selama penelitian, 22% dari kelompok kontrol mengalami sakit kepala, sedangkan penyelam profesional hanya 16%. Selain itu, penyelam yang mengalami sakit kepala jumlah serangan sakit kepala tiap bulannya lebih sedikit daripada kelompok kontrol.

Untuk migrain, tingkat penderita migrain sama-sama rendah pada kedua kelompok, yaitu 4,5% pada kelompok penyelam dan 8% pada kelompok kontrol. Ketegangan akibat sakit kepala sedikit lebih banyak, yaitu 10% pada penyelam, dan 13,5% pada kelompok kontrol.

Temuan penelitian ini terbatasi oleh ukuran sampel yang kecil, namun Dr. Di Fabio berpikir hasilnya akan membantu menentukan bagaimana menyelam dapat mempengaruhi penyelam profesional.

Dia berspekulasi bahwa kesehatan penyelam secara keseluruhan bisa menjadi salah satu alasan mengapa penyelam lebih sedikit mengalami sakit kepala atau kegiatan menyelam itu sendiri lah yang mungkin memberi perlindungan.

"Latihan berguna membuat otak kurang sensitif terhadap stres dan menghindari rangsangan yang dapat memicu migrain. Oleh karena itu, menyelam serta olahraga aerobik lainnya dapat membantu mengurangi jumlah serangan migrain," kata Dr. Di Fabio seeprti dilansir Health24.com, Selasa (25/10/2011).

"Penyelam bekerja dalam tekanan lingkungan dan memiliki risiko tinggi mengalami gangguan otak dan pembuluh darah, kondisi yang berkontribusi menyebabkan sakit kepala umum. Sebuah studi longitudinal dapat mengungkapkan jika menyelam dapat bertindak sebagai faktor pelindung dari terjadinya sakit kepala," pungkas Dr. Di Fabio.
sumber www.detik.com
»»  READMORE...

Kemampuan Orgasme Perempuan Bisa Dilihat dari Cara Berjalan


Jakarta, Tidak semua perempuan bisa mencapai orgasme dengan mudah saat berhubungan seks, ada yang butuh waktu sangat lama atau bahkan tidak pernah mengalaminya. Menurut pakar, kemampuan orgasme seorang perempuan bisa dilihat dari cara berjalan.

Pakar seksualitas perempuan dari Northwestern University, Dr Laura Berman mengatakan perempuan yang sering mencapai orgasme saat berhubungan seks memiliki cara berjalan yang berbeda. Bagi yang masih perawan, kemampuannya di ranjang saat sudah bersuami juga bisa diprediksi dari perbedaan ini.

"Menurut penelitian, perempuan yang berjalan dengan lincah, berenergi, sensual dan merdeka cenderung memiliki lebih banyak riwayat orgasme vaginal," ungkap Dr Berman dalam salah satu tulisannya seperti dikutip dari Suntimes, Selasa (25/10/2011).

Cara berjalan seperti itu, menurut Dr Berman menunjukkan bahwa otot panggul di sekitar vagina tidak berada dalam kondisi lemah dan terkunci. Kondisi tersebut sangat memungkinkan terjadinya orgasme vagina, yakni orgasme akibat rangsangan di dalam liang sanggama.

Secara psikologis, perempuan yang berjalan dengan penuh energi biasanya juga memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi dibandingkan perempuan yang cara berjalannya tidak bersemangat. Rasa percaya diri membuat perempuan lebih berani mengeksplorasi kebutuhan seksualnya, sehingga lebih mudah mencapai orgasme.

Namun Dr Berman mengakui hubungan antara orgasme dengan cara berjalan mirip ibaratnya seperti telur dan ayam, sulit dipastikan mana yang lebih dulu ada. Cara berjalan seperti itu bisa saja meningkatkan peluang orgasme, namun bisa juga pengalaman orgasme yang mempengaruhi cara berjalan.

Terlepas dari benar tidaknya teori ini, Dr Berman mengatakan bahwa pada dasarnya setiap perempuan lebih dianjurkan untuk berjalan dengan penuh energi dan jangan ragu untuk menggoyangkan pinggul. Berjalan dengan penuh semangat akan membuat postur tubuh dan tulang lebih kokoh dan tidak mudah cedera.
sumber www.detik.com
»»  READMORE...

10.19.2011

Perasaan Sedih Bikin Orang Lebih Fokus dan Bertindak Cerdas


Jakarta, Perasaan sedih bisa memicu stres atau bahkan depresi. Tapi rasa sedih juga ada manfaatnya karena kesedihan dapat membuat orang berpikir lebih fokus dan bertindak lebih cerdas.

Profesor di University of New South Wales di Australia telah menemukan bahwa orang sedih cenderung lebih meragukan tentang mitos dan rumor. Mereka juga cenderung melihat orang sebagai individu, bukan sebagai stereotip. Mereka bahkan memberikan presentasi yang lebih meyakinkan.

"Ketika senang, seseorang menutup mata dari kenyataan dan hanya berpikir tentang jatuh cinta. Kesedihan akan membuat orang berpikir lebih dalam, berkonsentrasi pada informasi baru, melihat ke dunia luar dan menilai kembali ide-ide lama," kata Gordon Parker, profesor psikiatri dari University of New South Wales seperti dikutip dari The Telegraph, Rabu (19/10/2011).

Sebuah kajian di AS terhadap 8.000 orang menemukan bahwa seperempat di antara orang yang dirawat karena depresi ternyata tidak benar-benar sakit. Mereka baru saja mengalami kesulitan emosional seperti kehilangan, yang mana kemudian mereka selesaikan sendiri secara alami.

Kesedihan membuat orang jadi tenang, menilai ulang dan membuat perubahan. Jika orang yang sedih merasa perlu meminum obat penenang, sebenarnya ia tidak memerlukannya. Sebab penelitian menunjukkan bahwa plasebo memiliki efek yang sama.

Sebuah uji klinis obat membandingkan antara plasebo dengan obat anti depresan. Dalam percobaan ini, plasebo ditemukan seringkali mampu menyembuhkan depresi.

Dalam 96 penelitian mengenai antidepresan dari tahun 1980 hingga 2005, efek plasebo tenyata dua kali lipat dari anti depresan dan efektif untuk enam dari 10 pasien.

Efek plasebo bekerja karena seseorang percaya bahwa obat tersebut bekerja dan ampuh seperti antidepresan asli untuk mengobati depresi yang kebanyakan dapat mereka sembuhkan sendiri.

"Kesedihan manusia membantu kita belajar dari kesalahan kita. Saya pikir, salah satu fungsi emosi negatif adalah untuk membuat kita fokus pada sesuatu yang lain untuk sementara," kata profesor psikiater Jerome Wakefield dari New York University.

Kesedihan juga dapat mencegah orang membuat kesalahan di tempat pertama. Risiko kesedihan dapat menghalangi orang dari menjadi terlalu ceroboh atau congkak, terutama dalam suatu hubungan atau dengan hal-hal lain yang dianggap bernilai.
sumber www.detik.com
»»  READMORE...

10.10.2011

Berapa Lama Manusia Bisa Bertahan Hidup Tanpa Minum dan Kedinginan?


Jakarta, Tak ada manusia yang bisa bertahan hidup tanpa minum dan makan, terlebih lagi bila suhu lingkungan sangat dingin sehingga bisa memicu hipotermia (menurunnya suhu tubuh). Berapa lama manusia bisa bertahan hidup tanpa makan minum dan kedinginan?

Ketika dihadapkan dengan situasi bertahan hidup (survival), air minum bersih sering menjadi pertimbangan yang paling penting. Manusia bisa bertahan hidup tanpa makanan selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan, namun bila tanpa air manusia hanya mampu bertahan selama 1 hari, seperti dilansir survivaltopics, Sabtu (1/10/2011).

Selain udara, air merupakan nutrisi yang paling penting bagi tubuh manusia. Untuk mempertahankan kesehatan dan efisiensi tubuh dalam lingkungan ideal, manusia membutuhkan minimalnya 2 liter air bersih per hari. Namun dalam lingkungan yang sangat panas, sangat dingin atau sangat kering, dua liter air mungkin tidak cukup untuk mempertahankan hidup selama beberapa hari.

Lalu bagaimana bila lingkungan sangat dingin?

Saat lingkungan sangat dingin maka risiko kesehatan yang paling mengancam adalah hipotermia. Hipotermia adalah suatu kondisi fisik yang terjadi ketika suhu tubuh turun hingga di bawah suhu normal (37 derajat celsius) sampai 35 derajat celcius atau lebih dingin.

Hipotermia mempengaruhi inti tubuh, seperti otak, jantung, paru-paru dan organ vital lainnya. Kasus hipotermia ringan bisa menyebabkan orang mengalami gangguan fisik dan mental, sedangkan hipotermia berat dapat mengakibatkan ketidaksadaran dan bahkan kematian.

Orang tua, orang yang di bawah pengaruh alkohol dan obat-obatan, serta anak-anak dan orang dengan gangguan kesehatan tertentu sangat rentan mengalami hipotermia.

Orang yang gemar melakukan aktivitas alam seperti berperahu, berenang, memancing, hiking atau ski, bahkan yang mengalami kecelakaan di pegunungan dan air juga rentan mengalami hipotermia, tapi kondisi tersebut tergantung pada berbagai faktor seperti kepribadian, perilaku, kondisi fisik, pakaian, dan faktor lingkungan. Setiap orang bereaksi berbeda terhadap dingin, bahkan saat berada pada kondisi yang sama.

Umumnya, anak-anak kehilangan panas tubuh lebih cepat daripada orang dewasa dan orang kurus kehilangan panas tubuh lebih cepat daripada orang kelebihan berat badan.

Dibandingkan udara dingin, air lebih cepat memicu hipotermia. Air bisa menghilangkan panas tubuh 25 kali lipat lebih cepat ketimbang udara dingin.

Tidak ada data yang menunjukkan seberapa lama orang dapat bertahan pada kondisi udara dingin, namun ada data yang menunjukkan berapa lama orang dapat bertahan di dalam air hingga akhirnya mengalami hipotermia dan meninggal dunia.

Berikut data lamanya waktu manusia bisa bertahan di dalam air, seperti dilansir seagrant.umn.edu, yaitu:

Suhu air (derajat C) Waktu sebelum kelelahan atau tidak sadar Waktu survival
0,3 < 15 menit 45 menit 0,3-4,4 15-30 menit 30-90 menit 3,3-10 30-60 menit 1-3 jam 10-15,6 1-2 jam 1-6 jam 15,6-21,1 2-7 jam 2-40 jam 21,1-26,7 3-12 jam 3 jam-tidak terbatas > 26,7 Tak terbatas Tak terbatas

sumber www.detik.com
»»  READMORE...